26 Agustus 2009

Berhadapan Dengan Flu Babi


Berhadapan Flu Babi 

Oleh: dr. Puti Naindra Alevia 

Jika Anda tinggal di daerah di mana kasus flu babi telah 
teridentifikasi dan kemudian jatuh sakit dengan gejala-gejala 
infeluenza, termasuk demam, pegal-pegal seluruh badan, lemas, 
penurunan nafsu makan, pilek, nyeri tenggorokan, mual, atau 
muntah, atau diare, sebaiknya Anda menghubungi dokter atau 
rumah sakit yang dijadikan rujukan penanganan infeksi ini. Sebagai 
upaya pencegahan penularan ke orang lain, penderita disarankan 
untuk tetap beristirahat di rumah. 
Seperti infeksi virus influenza pada umumnya, sebagian besar infeksi 
virus H1N1 (yang ringan) akan sembuh dengan sendirinya tanpa 
bantuan obat-obatan (self-limiting disease). Saat ini, kasus-kasus flu 
H1N1 di Amerika Serikat bersifat ringan dan membaik sendiri. Karena itu jika muncul gejala influenza, seperti 
biasa, yang dapat kita lakukan adalah mencoba membantu pasukan sistem imunitas (tubuh) memberantas virus 
dengan cukup beristirahat dan makan makanan yang bergizi secara teratur. Suplementasi vitamin atau 
meningkatkan konsumsi buah-buahan yang kaya vitamin juga dapat membantu. 

Jika infeksinya lebih berat, dokter dapat memberikan obat-obat antivirus. Obat ini akan meredakan gejala dan 
mencegah komplikasi seperti pneumonia. Saat ini pada beberapa negara tersedia obat-obat antivirus yang efektif.
Terdapat dua kelas antivirus, 1) adamantanes (amantadine dan remantadine), dan 2) inhibitor neuraminidase 
influenza (oseltamivir dan zanamivir). Khusus untuk serangan flu babi pada saat ini, direkomendasikan 
pemberian oseltamivir atau zanamivir. Obat ini sama dengan yang disediakan untuk penanganan flu burung. 
Berdasarkan informasi dari Menteri Kesehatan Indonesia, di Indonesia masih terdapat persediaan cadangan 
oseltamivir sebanyak 5 juta dosis. Jadi dalam hal ini Indonesia cukup siap. 

Obat antivirus tersebut sebaiknya diberikan tidak lama setelah diagnosis flu babi ditegakkan. Pemberian obat 
dilakukan selama 5 hari. Untuk orang dewasa, dosis oseltamivir adalah 75 mg 2x per hari. Obat-obat ini masuk 
kategori C untuk keamanan penggunaan dalam kehamilan, artinya belum ada penelitian atau studi klinis mengena
kemanan obat-obat ini untuk ibu hamil. Karena efeknya pada kehamilan belum diketahui, penggunaan obat ini 
sebaiknya setelah dipertimbangkan risiko dan keuntungannya. Namun, selama ini belum ada laporan mengenai 
efek samping oseltamivir atau zanamivir baik pada ibu hamil maupun bayi yang kemudian dilahirkan. 

Yang perlu diperhatikan adalah apabila Anda merasa sangat sakit dan muncul gejala-gejala yang bersifat gawat 
darurat, Anda perlu segera mencari penanganan darurat di Rumah Sakit. Pada anak, tanda-tanda gawat darurat 
tersebut, antara lain: 
• Sesak napas atau kesulitan bernapas 
• Warna kulit kebiruan 
• Tidak mau minum atau tidak cukup minum 
• Anak menjadi tidur terus (penurunan kesadaran) 
• Anak menjadi sangat rewel sehingga tidak mau digendong 
• Gejala flu membaik namun kembali lagi dengan demam dan batuk-batuk yang lebih berat 
• Demam dengan merah-merah pada kulit. 
Sedangkan, tanda-tanda gawat darurat pada orang dewasa, antara lain: 
• Kesulitan bernapas atau napas pendek-pendek 
• Nyeri atau terasa tekanan pada dada atau perut 
• Kepala seperti melayang 
• Seperti orang bingung 
• Muntah-muntah yang hebat atau terus menerus. 
Saat ini peneliti sedang mengembangkan vaksin untuk virus strain baru ini. Namun, pada kelompok individu 
tertentu, dianjurkan emberian obat antivirus di atas sebagai profilaksis (pencegahan) infeksi, baik sebelum atau 
sesudah kontak. Kelompok individu tersebut, antara lain: 
• Orang dengan risiko tinggi komplikasi influenza yaitu orang dengan penyakit kronik atau orang tua yang 
kontak dengan pasien yang dicurigai atau terdiagnosis terkena infeksi flu babi 
• Anak sekolah yang memiliki risiko tinggi komplikasi influenza yang mengalami kontak erat (face-to-face) 
dengan pasien yang dicurigai atau terdiagnosis terkena infeksi flu babi. 
• Pelancong ke Meksiko yang memiliki risiko ringgi komplikasi influenza (orang dengan penyakit kronik 
atau orang tua) 
• Petugas medis yang memiliki kontak dengan pasien yang dikonfirmasi terkena infeksi flu babi tanpa 
proteksi. 
Seperti biasa, mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan infeksi virus ini sebetulnya sederhana, yaitu 
dengan menjaga higienitas diri serta menghindari kontak dengan orang yang terlihat sakit. Seringlah cuci tangan 
dengan sabun atau menggunakan cairan antiseptik yang banyak dijual, terutama setelah batuk atau bersin, serta 
sebelum makan. Selain itu, jangan menyentuh mulut, hidung, atau mata dengan tangan. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar