
Berhadapan Flu Babi
Oleh: dr. Puti Naindra Alevia
teridentifikasi dan kemudian jatuh sakit dengan gejala-gejala
infeluenza, termasuk demam, pegal-pegal seluruh badan, lemas,
penurunan nafsu makan, pilek, nyeri tenggorokan, mual, atau
muntah, atau diare, sebaiknya Anda menghubungi dokter atau
rumah sakit yang dijadikan rujukan penanganan infeksi ini. Sebagai
upaya pencegahan penularan ke orang lain, penderita disarankan
untuk tetap beristirahat di rumah.
Seperti infeksi virus influenza pada umumnya, sebagian besar infeksi
virus H1N1 (yang ringan) akan sembuh dengan sendirinya tanpa
bantuan obat-obatan (self-limiting disease). Saat ini, kasus-kasus flu
H1N1 di Amerika Serikat bersifat ringan dan membaik sendiri. Karena itu jika muncul gejala influenza, seperti
biasa, yang dapat kita lakukan adalah mencoba membantu pasukan sistem imunitas (tubuh) memberantas virus
dengan cukup beristirahat dan makan makanan yang bergizi secara teratur. Suplementasi vitamin atau
meningkatkan konsumsi buah-buahan yang kaya vitamin juga dapat membantu.
Jika infeksinya lebih berat, dokter dapat memberikan obat-obat antivirus. Obat ini akan meredakan gejala dan
mencegah komplikasi seperti pneumonia. Saat ini pada beberapa negara tersedia obat-obat antivirus yang efektif.
Terdapat dua kelas antivirus, 1) adamantanes (amantadine dan remantadine), dan 2) inhibitor neuraminidase
influenza (oseltamivir dan zanamivir). Khusus untuk serangan flu babi pada saat ini, direkomendasikan
pemberian oseltamivir atau zanamivir. Obat ini sama dengan yang disediakan untuk penanganan flu burung.
Berdasarkan informasi dari Menteri Kesehatan Indonesia, di Indonesia masih terdapat persediaan cadangan
oseltamivir sebanyak 5 juta dosis. Jadi dalam hal ini Indonesia cukup siap.
Obat antivirus tersebut sebaiknya diberikan tidak lama setelah diagnosis flu babi ditegakkan. Pemberian obat
dilakukan selama 5 hari. Untuk orang dewasa, dosis oseltamivir adalah 75 mg 2x per hari. Obat-obat ini masuk
kategori C untuk keamanan penggunaan dalam kehamilan, artinya belum ada penelitian atau studi klinis mengena
kemanan obat-obat ini untuk ibu hamil. Karena efeknya pada kehamilan belum diketahui, penggunaan obat ini
sebaiknya setelah dipertimbangkan risiko dan keuntungannya. Namun, selama ini belum ada laporan mengenai
efek samping oseltamivir atau zanamivir baik pada ibu hamil maupun bayi yang kemudian dilahirkan.
Yang perlu diperhatikan adalah apabila Anda merasa sangat sakit dan muncul gejala-gejala yang bersifat gawat
darurat, Anda perlu segera mencari penanganan darurat di Rumah Sakit. Pada anak, tanda-tanda gawat darurat
tersebut, antara lain:
• Sesak napas atau kesulitan bernapas
• Warna kulit kebiruan
• Tidak mau minum atau tidak cukup minum
• Anak menjadi tidur terus (penurunan kesadaran)
• Anak menjadi sangat rewel sehingga tidak mau digendong
• Gejala flu membaik namun kembali lagi dengan demam dan batuk-batuk yang lebih berat
• Demam dengan merah-merah pada kulit.
Sedangkan, tanda-tanda gawat darurat pada orang dewasa, antara lain:
• Kesulitan bernapas atau napas pendek-pendek
• Nyeri atau terasa tekanan pada dada atau perut
• Kepala seperti melayang
• Seperti orang bingung
• Muntah-muntah yang hebat atau terus menerus.
Saat ini peneliti sedang mengembangkan vaksin untuk virus strain baru ini. Namun, pada kelompok individu
tertentu, dianjurkan emberian obat antivirus di atas sebagai profilaksis (pencegahan) infeksi, baik sebelum atau
sesudah kontak. Kelompok individu tersebut, antara lain:
• Orang dengan risiko tinggi komplikasi influenza yaitu orang dengan penyakit kronik atau orang tua yang
kontak dengan pasien yang dicurigai atau terdiagnosis terkena infeksi flu babi
• Anak sekolah yang memiliki risiko tinggi komplikasi influenza yang mengalami kontak erat (face-to-face)
dengan pasien yang dicurigai atau terdiagnosis terkena infeksi flu babi.
• Pelancong ke Meksiko yang memiliki risiko ringgi komplikasi influenza (orang dengan penyakit kronik
atau orang tua)
• Petugas medis yang memiliki kontak dengan pasien yang dikonfirmasi terkena infeksi flu babi tanpa
proteksi.
Seperti biasa, mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan infeksi virus ini sebetulnya sederhana, yaitu
dengan menjaga higienitas diri serta menghindari kontak dengan orang yang terlihat sakit. Seringlah cuci tangan
dengan sabun atau menggunakan cairan antiseptik yang banyak dijual, terutama setelah batuk atau bersin, serta
sebelum makan. Selain itu, jangan menyentuh mulut, hidung, atau mata dengan tangan.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar